Senin, 29 Juli 2013

LET IT GO

Ini tentang hubungan yang kujalin hampir setahun lamanya. Mungkin sebagian orang merasa bahwa hubungan setahun bukanlah apa-apa. Masih seumur jagung dan masih mudah untuk dilupakan. Tapi buatku, dan sebagian besar teman seangkatan lainnya, hubungan ini sangat berarti karena telah melewati begitu banyak peristiwa dramatis. Ada tawa, air mata, caci-maki, kelaparan, bosan, stres, dan tentu saja makan-makan dan karaoke. Inilah hubungan kami dengan tesis kami masing-masing. Hanya setahun tapi terasa begitu mendalam.


Minggu, 19 Mei 2013

KEPERCAYAAN


Sebagai anak yang selalu diberikan kepercayaan, tetap saja bakat berbohongku menyeruak semarak ibarat jamur di musim penghujan. Tapi, ada yang selalu yang kujauhkan dari sasaran kebohongan: emakku. Bagaimanapun, dia adalah orang yang selalu memberikanku kepercayaan sejak kecil. Satu kebohongan, pasti akan menghancurkan seluruh kepercayaannya.

Karena rasa percaya itu pulalah, aku selalu berharap ibukupun melakukan hal yang sama, jujur dan selalu menjaga kepercayaan dari anaknya. Tapi, ada dua hal yang pernah membuatku memikirkan kembali soal kepercayaanku kepadanya. Di awal tahun ini, ia kembali harus dirawat di rumah sakit. Karena tak ingin aku panik dan langsung pulang ke Medan, ia putuskan untuk membohongiku dan bilang kalau dia hanya sakit dan istirahat di rumah.


Kamis, 03 Januari 2013

FACE THE PAST


Saat pindah ke Jogja, turut bersama seabrek barang yang kuangkut dari Medan, adalah sebuntel dokumen. Buntelan itu terdiri dari seamplop tebal tiket mulai pesawat, bis, sampai kapal laut, struk belanja dan bea masuk lainnya seperti museum. Leafleat, peta, dan juga ada sebuah buku notes berukuran sedang. Buntelan itu adalah semua benda yang terkumpul saat aku melakukan traveling selama 6 minggu ke bagian timur dan tengah Indonesia.

Niat awal saat membawa buntelan itu ke Jogja adalah agar kelak jika ada waktu, aku dapat menulis cerita tentang perjalanan yang berlangsung selama enam minggu, menghabiskan biaya belasan juta, dan sukses menggosongkan kulitku yang memang sudah cokelat. Tapi sampai saat ini, tak juga niatan untuk merangkai tulisan tentang perjalanan itu berhasil kulakukan.

Senin, 31 Desember 2012

Menuangkan Isi Ember

Tahun baru, mau tak mau sudah tiba. Suka tak suka, tahun ini aku akan menjadi thirty something. Sungguh, sesuatu.

Kembali menulis di blog ini bukanlah resolusi tahun baru (aku tak pernah membuat resolusi tahun baru).  Pada dasarnya aku orang yang tak suka berkomitmen, persis seperti sifat laki-laki yang baru saja kudepak setelah 8 tahun ia menghantui hidupku. Namun, menjadi sedikit lebih bijaksana, dan sedikit lebih kurus lagi, terdengar lumayan menyenangkan untuk diangan-angankan di tahun baru ini-entah akan menyenangkan atau tidak kalau harus merealisasikannya.

Duduk di bangku kapel yang hanya setengah terisi di pagi hari ini dan mendengar khotbah romo yang gemar sekali bernyanyi (untunglah suaranya cukup mendukung hobinya itu), aku tersadar akan satu hal. Aku merasa seperti ember. Entah emberku penuh atau kososng, itu yang aku bingung menjawabnya.


Senin, 15 Oktober 2012

PRIA YANG INGIN MENGAJAKKU MENIKAH, SETELAH AKU DAN DIA MENJADI DUDA DAN JANDA


Ini bukan pernyataan cinta, for sure. Hanya saja aku merasa agak kaget ketika seorang teman mengatakan akan segera menikah bulan November nanti. Sebenarnya, aku enggak terlalu heran kalau ia akan menikahi perempuan yang selama ini ia pacari, dan aku juga pernah dikenalkan dengan pacarnya itu. Hanya saja, ketika kutanya kenapa ia menikah secepat ini (dia berumur 2 atau 3 tahun lebih tua dariku, yaaa jadi usianya sekitar 31 atau 32 tahun), ia memberikan jawaban yang sedikit aneh. Katanya, ia menikah karena ia bingung mau melakukan apa lagi di dunia ini. Tentu saja aku tertawa terbahak-bahak dan berkata, “Kuliahmu aja belum selesai, udah gak tahu kau mau ngerjakan apa? Sarjana kau dulu, baru kawin!” (Memang kawanku itu belum tamat S1, padahal seperti kutulis sebelumnya, ia lebih tua dariku. Ia punya begitu banyak kegiatan, kecuali menyelesaikan kuliah S1-nya.)

Mungkin aneh, kenapa aku merasa kaget ia ingin menikah secepat ini. Mungkin juga karena aku sendiri sering merasa kalau kami bukan hanya berteman, tapi jelas kami tak punya romansa apapun, setidaknya dari pihakku. Dia itu teman yang aneh, aneh karena ia memang aneh adanya. Biasanya untuk orang yang aneh, aku belajar cuek dan tak terlalu peduli kalau tiba-tiba ia kumat ayannya (gila, tiba-tiba menjadi pemarah, atau tiba-tiba menghilang dari muka bumi tanpa kabar sedikitpun). Namun, aku sering marah kalau ia tiba-tiba menggila. Padahal, berteman dengan teman-teman yang kebanyakan mengidap sakit jiwa kambuhan, membuatku sudah hapal gejala-gejala kalau mereka sedang tak waras. Tapi, aku selalu merasa marah kalau ia tiba-tiba menjadi pendiam tanpa sebab, menghilang, atau tak membalas sms atau telepon.

Minggu, 30 September 2012

SEBENTAR LAGI, DI DEPAN


Jawaban seperti itulah yang kuterima tiap kali aku berhenti mendaki dan bertanya, “Masih jauh?” Tentu saja, aku bukan anak kemarin sore. Usiaku sudah uzur dan yang memberikan jawaban itu juga jauh lebih muda dariku. Aku tahu ia menipuku. Tapi, bahkan untuk orang seumurku pun butuh ditipu agar tetap semangat dan tidak menyerah.

Aku tahu banyak motivasi diri agar tidak pernah mengangkat bendera putih saat hidup. Ada satu motivasi yang paling berkesan, entah dari acara mana aku mengetahuinya, mungkin sebuah talkshow. Perempuan ini pernah diberi nasehat oleh ibunya. Kata sang ibu begini, “Dalam kesulitan, ingatlah bahwa kau juga pernah mengalami kesulitan dan sekarang kau mengenang masa-masa itu. Sehingga setiap berada dalam kesulitan, kau harus berpikir kalau kau pasti akan melewatinya sama seperti masa-masa sulit yang sudah lewat.”

Di depan, sebentar lagi, adalah sebuah harapan. Harapan bahwa masalah dan kesulitan akan segera lewat dan kau hanya perlu melewatinya dan berusaha sekuat tenaga. Kadang, yang kita perlukan hanyalah seseorang yang sepertinya menipumu, tapi sesungguhnya ia mengatakan kebenaran. Masalah akan segera selesai, sebentar lagi, di depan.   

Selasa, 25 September 2012

Target

Mematung di depan buku dan laptop dengan hanya otak yang bekerja keras sementara jari tangan hanya sekali-kali menggoreskan tinta di atas kertas atau menekan tuts keyboard, membuatku berpikir tentang dua hal: target dan standar. Aku belajar tentang dua hal ini dan hal-hal lainnya dalam waktu hanya empat hari, ketika mendaki Rinjani, sekitar 3 minggu yang lalu. Pendakian itu tak mudah bagi pendaki pemula yang sudah uzur sepertiku. Kata kawanku yang sudah hapal setiap senti gunung Rinjani, tak perlu membuat target yang terlalu jauh. Pikirkan saja tempat yang cukup realistis untuk dicapai. Tentu saja perjalanan empat hari dibagi menjadi beberapa target. Ada target harian, target waktu makan, dll. Terkadang, target yang ingin dicapai tampak terlalu sulit untuk dicapai. Bukitnya terlalu tinggi dan curam. Rasanya tak ingin memikirkan puncak bukit sebagai target. Maka mata tak lagi melihat ke atas bukit. Aku hanya menargetkan tikungan atau bongkah batu 10 atau 15 langkah di depan sebagai target. Setelah mencapai target, akupun menghadiahkan diri dengan beberapa detik istirahat untuk menarik nafas.

Inilah yang sekarang kulakukan, membuat target. Tak muluk-muluk dan tak jauh-jauh. Hari ini, tepatnya sebelum sarapan, aku menargetkan Bab II. Bukan Bab II tesisku, tapi Bab II salah satu buku babon yang akan menjadi landasan pemikiran dari seluruh isi tesis ini. Mudah-mudahan target hari ini bisa tercapai. Setidaknya, jika malam ini aku mencapai target, aku dapat tidur nyenyak, alih-alih mimpi buruk dimarah-marah oleh sang profesor seperti tadi malam.