Tahun baru, mau tak mau sudah tiba. Suka tak suka, tahun ini aku akan menjadi thirty something. Sungguh, sesuatu.
Kembali menulis di blog ini bukanlah resolusi tahun baru (aku tak pernah membuat resolusi tahun baru). Pada dasarnya aku orang yang tak suka berkomitmen, persis seperti sifat laki-laki yang baru saja kudepak setelah 8 tahun ia menghantui hidupku. Namun, menjadi sedikit lebih bijaksana, dan sedikit lebih kurus lagi, terdengar lumayan menyenangkan untuk diangan-angankan di tahun baru ini-entah akan menyenangkan atau tidak kalau harus merealisasikannya.
Duduk di bangku kapel yang hanya setengah terisi di pagi hari ini dan mendengar khotbah romo yang gemar sekali bernyanyi (untunglah suaranya cukup mendukung hobinya itu), aku tersadar akan satu hal. Aku merasa seperti ember. Entah emberku penuh atau kososng, itu yang aku bingung menjawabnya.
Menurut sang romo, kebijaksanaan dapat dicapai kalau kita menyimpan dulu segala perkara dan merenungkannya. Setahuku, aku tak selalu berhasil menyimpan berbagai permasalahan yang kuhadapi. Mulutku acap kali lebih cepat dari otakku. Belum lagi kucerna, apalagi sampai menyimpannya, sudah kutumpahkan segala uneg-uneg dalam berbagai curhatan dan lebih sering repetan panjang tiada akhir. Kalau begitu, bukankah aku adalah ember yang selalu kosong karena isinya terus ditumpahkan? Tapi mengapa aku terus merasa sesak dan ingin mengeluarkan uneg-uneg tiada akhir? Dan kalau aku tak pernah menyimpan dan merenungkan masalah, melainkan langsung bereaksi, berarti aku orang yang tak bijaksana. Tapi, mengapa aku merasa selalu memiliki sesuatu kebajikan untuk dibagikan kepada orang lain? Apakah itu hanya perasaanku saja?
Sebagai ember yang entah penuh atau kosong, rasanya ada sesuatu yang salah dari caraku. Mungkin bukan masalah apakah aku menuangkan isi ember itu atau tidak, tapi lebih tentang di mana dan dengan cara apa aku menuangkannya. Karena itu, mungkin dengan mencari tempat tumpahan ember yang tepat, aku akan merasa lebih baik di tahun ini. Semoga emberku jelas statusnya, penuh dan bijaksana atau kosong dan serampangan.
Kembali menulis di blog ini bukanlah resolusi tahun baru (aku tak pernah membuat resolusi tahun baru). Pada dasarnya aku orang yang tak suka berkomitmen, persis seperti sifat laki-laki yang baru saja kudepak setelah 8 tahun ia menghantui hidupku. Namun, menjadi sedikit lebih bijaksana, dan sedikit lebih kurus lagi, terdengar lumayan menyenangkan untuk diangan-angankan di tahun baru ini-entah akan menyenangkan atau tidak kalau harus merealisasikannya.
Duduk di bangku kapel yang hanya setengah terisi di pagi hari ini dan mendengar khotbah romo yang gemar sekali bernyanyi (untunglah suaranya cukup mendukung hobinya itu), aku tersadar akan satu hal. Aku merasa seperti ember. Entah emberku penuh atau kososng, itu yang aku bingung menjawabnya.
Menurut sang romo, kebijaksanaan dapat dicapai kalau kita menyimpan dulu segala perkara dan merenungkannya. Setahuku, aku tak selalu berhasil menyimpan berbagai permasalahan yang kuhadapi. Mulutku acap kali lebih cepat dari otakku. Belum lagi kucerna, apalagi sampai menyimpannya, sudah kutumpahkan segala uneg-uneg dalam berbagai curhatan dan lebih sering repetan panjang tiada akhir. Kalau begitu, bukankah aku adalah ember yang selalu kosong karena isinya terus ditumpahkan? Tapi mengapa aku terus merasa sesak dan ingin mengeluarkan uneg-uneg tiada akhir? Dan kalau aku tak pernah menyimpan dan merenungkan masalah, melainkan langsung bereaksi, berarti aku orang yang tak bijaksana. Tapi, mengapa aku merasa selalu memiliki sesuatu kebajikan untuk dibagikan kepada orang lain? Apakah itu hanya perasaanku saja?
Sebagai ember yang entah penuh atau kosong, rasanya ada sesuatu yang salah dari caraku. Mungkin bukan masalah apakah aku menuangkan isi ember itu atau tidak, tapi lebih tentang di mana dan dengan cara apa aku menuangkannya. Karena itu, mungkin dengan mencari tempat tumpahan ember yang tepat, aku akan merasa lebih baik di tahun ini. Semoga emberku jelas statusnya, penuh dan bijaksana atau kosong dan serampangan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar