Kafe yang tadinya sepi, tiba-tiba diserbu serombongan anak muda berpakaian putih-hitam. Seorang di antara mereka tampak lebih tua dan berbusana berbeda. Dugaanku mereka ini berasal dari salah satu sekolah tinggi yang memang ada beberapa di sekitar kafe tempatku duduk saat itu. Ngapain mereka di sini? Bukan rahasia lagi kalau beberapa dosen memang lebih senang melakukan pertemuan di luar kampus, mungkin agar lebih santai. Karena jumlah mahasiswa yang cukup banyak, dugaan awalku mereka sedang bimbingan untuk tugas akhir.
Kamis, 30 Oktober 2014
Jumat, 07 Maret 2014
Siapa Kamu dari Nama Belakangmu...
Ingat sebuah adegan dari film serial Superman yang tayang waktu jaman SMP, dibintangi Dean Cain (Clark Kent/Superman) dan Teri Hatcher (Louis Lane). Waktu mereka berencana menikah, Louis berkata bahwa ia tak akan menggunakan nama belakang Clark. Alasannya dapat ditebak, Louis itu perempuan mandiri. Ia wartawan yang berani mendobrak segala jenis rintangan yang menghalangi dirinya dan sumber beritanya. Sayangnya, ia berada di film yang salah, sehingga alih-alih menginspirasi agar perempuan menjadi kuat dan tegar, ia muncul sebagai sosok yang selalu diselamatkan (digendong dari pesawat yang meledaklah, dilindungi dari pecahan bom-lah, dll). Tapi, adegan itu adalah salah satu titik penting dalam hidup seorang anak perempuan remaja tentang kesetaraan gender.
Jumat, 09 Agustus 2013
How We Respect
Barusan, aku lihat gambar di akun twitter seorang kawan. Isi twit-nya: di dalam sebuah toko buku rohani. Gambar yang dia unggah adalah sebuah papan yang dipajang di toko tersebut yang isinya: "mata tuhan ada di mana-mana...", plus ayat yang mendukung papan peringatan tersebut.
Senin, 29 Juli 2013
LET IT GO
Ini tentang hubungan yang kujalin hampir setahun lamanya. Mungkin sebagian orang merasa bahwa hubungan setahun bukanlah apa-apa. Masih seumur jagung dan masih mudah untuk dilupakan. Tapi buatku, dan sebagian besar teman seangkatan lainnya, hubungan ini sangat berarti karena telah melewati begitu banyak peristiwa dramatis. Ada tawa, air mata, caci-maki, kelaparan, bosan, stres, dan tentu saja makan-makan dan karaoke. Inilah hubungan kami dengan tesis kami masing-masing. Hanya setahun tapi terasa begitu mendalam.
Minggu, 19 Mei 2013
KEPERCAYAAN
Sebagai anak yang selalu diberikan kepercayaan, tetap saja bakat berbohongku menyeruak semarak ibarat jamur di musim penghujan. Tapi, ada yang selalu yang kujauhkan dari sasaran kebohongan: emakku. Bagaimanapun, dia adalah orang yang selalu memberikanku kepercayaan sejak kecil. Satu kebohongan, pasti akan menghancurkan seluruh kepercayaannya.
Karena rasa percaya itu pulalah, aku selalu berharap ibukupun melakukan hal yang sama, jujur dan selalu menjaga kepercayaan dari anaknya. Tapi, ada dua hal yang pernah membuatku memikirkan kembali soal kepercayaanku kepadanya. Di awal tahun ini, ia kembali harus dirawat di rumah sakit. Karena tak ingin aku panik dan langsung pulang ke Medan, ia putuskan untuk membohongiku dan bilang kalau dia hanya sakit dan istirahat di rumah.
Kamis, 03 Januari 2013
FACE THE PAST
Niat awal saat membawa buntelan itu ke Jogja adalah agar kelak jika ada waktu, aku dapat menulis cerita tentang perjalanan yang berlangsung selama enam minggu, menghabiskan biaya belasan juta, dan sukses menggosongkan kulitku yang memang sudah cokelat. Tapi sampai saat ini, tak juga niatan untuk merangkai tulisan tentang perjalanan itu berhasil kulakukan.
Senin, 31 Desember 2012
Menuangkan Isi Ember
Tahun baru, mau tak mau sudah tiba. Suka tak suka, tahun ini aku akan menjadi thirty something. Sungguh, sesuatu.
Kembali menulis di blog ini bukanlah resolusi tahun baru (aku tak pernah membuat resolusi tahun baru). Pada dasarnya aku orang yang tak suka berkomitmen, persis seperti sifat laki-laki yang baru saja kudepak setelah 8 tahun ia menghantui hidupku. Namun, menjadi sedikit lebih bijaksana, dan sedikit lebih kurus lagi, terdengar lumayan menyenangkan untuk diangan-angankan di tahun baru ini-entah akan menyenangkan atau tidak kalau harus merealisasikannya.
Duduk di bangku kapel yang hanya setengah terisi di pagi hari ini dan mendengar khotbah romo yang gemar sekali bernyanyi (untunglah suaranya cukup mendukung hobinya itu), aku tersadar akan satu hal. Aku merasa seperti ember. Entah emberku penuh atau kososng, itu yang aku bingung menjawabnya.
Kembali menulis di blog ini bukanlah resolusi tahun baru (aku tak pernah membuat resolusi tahun baru). Pada dasarnya aku orang yang tak suka berkomitmen, persis seperti sifat laki-laki yang baru saja kudepak setelah 8 tahun ia menghantui hidupku. Namun, menjadi sedikit lebih bijaksana, dan sedikit lebih kurus lagi, terdengar lumayan menyenangkan untuk diangan-angankan di tahun baru ini-entah akan menyenangkan atau tidak kalau harus merealisasikannya.
Duduk di bangku kapel yang hanya setengah terisi di pagi hari ini dan mendengar khotbah romo yang gemar sekali bernyanyi (untunglah suaranya cukup mendukung hobinya itu), aku tersadar akan satu hal. Aku merasa seperti ember. Entah emberku penuh atau kososng, itu yang aku bingung menjawabnya.
Langganan:
Postingan (Atom)




