Jumat, 24 Februari 2012

Permohonan Kepada Hujan



Suara anakan kucing terdengar cukup nyaring di pagi buta jam setengah enam saat aku sedang berjalan menuju fitness center, tiga hari yang lalu. Biasanya, suara memiriskan seperti itu menandakan hidup mahluk kecil itu tak akan lama lagi, mungkin dia sekarat, kelaparan, dan kedinginan.

Pagi, saat kakiku melangkah menuju kampus, suara yang sama terdengar lagi. Kucari di mana-mana, suaranya hanya terdengar layap-layap namun cukup nyaring. Hatiku bersorak girang, setidaknya anak kucing itu cukup kuat untuk dapat mengeluarkan suara secempreng itu.

Saat kakiku melangkah menuju kosan, siangnya, sosok kucing kecil itu akhirnya menampakkan wujudnya. Untuk kucing jalanan yang jelas sudah disapih induknya, ia cukup sehat, bahkan tubuhnya cukup gemuk. Perutnya membuncit tanda ia tak kelaparan, bulunya tergolong cukup bersih dan ia juga cukup gesit. Aku membelai kucing itu sejenak. Ia jelas tak lapar, hanya butuh kasih sayang. Sayang, aku tak mungkin berlama-lama di tempat itu. “Rumah” kucing itu adalah di bagian pagar besi yang membatasi antara wilayah kampus dan jalan yang di seberangnya adalah pemukiman penduduk. Hanya ada tanah kosong di situ dan trotoar yang sering dijadikan lokasi tambahan bagi para pemilik warung tenda yang sudah bersiap-siap menggelar dagangan.

Akhrinya, aku meninggalkan si belang mungil itu. Ia mengeong-ngeong dan kakinya mengikuti langkahku. Aku berhenti sejenak dan menghardik anak kucing itu. Ia tak boleh mengikutiku. Sangat berbahaya berkeliaran di bagian luar pagar karena langsung bersisian dengan jalan raya yang walaupun bukan jalan utama tapi cukup ramai. Tubuhnya yang mungil pasti sulit dilihat oleh para pengendara sepeda motor yang terlalu ugal-ugalan untuk ukuran sebuah kota pelajar.

Kucing itu tampaknya paham ketika kuhardik. Ia duduk. Namun, ketika aku melangkah, ia mengeong lagi, dan mengikuti. Akupun berhenti dan kembali membentaknya. Ia lalu duduk terdiam. Ketika aku melangkah lagi, ia hanya mengeong, namun tak mengikuti. Aku berharap ia tetap berada di bagian dalam pagar, aman dari ancaman para pengendara sepeda motor.

Tadi sore, seperti hari sebelumnya, aku harus menyeret langkah dan pergi ke kampus saat megamendung masih menggelayut di langit setelah hujan kecil yang turun sebelumnya. Di saat aku melintasi pagar pembatas, tiba-tiba si mungil itu muncul. Ia menjilati bulunya yang basah. Akupun menggosok-gosok badannya. Mungkin karena dingin, ia langsung duduk di antara kedua kakiku. Kehangatan kain celana membuat matanya merem-melek saat kepalanya kuusap-usap.

Sayang, jadwal kuliahku semakin mepet. Walau berat, aku tinggalkan anak kucing itu. Sekali lagi, ia mengikutiku. Mungkin karena sudah terlatih, saat kupelototi sambil membentak pelan, anak kucing itu langsung duduk patuh, namun matanya masih terus mengikutiku.

Belum seberapa jauh beranjak, suara hujan besar bergetar di langit. Angin membawa hujan itu ke arahku. Walau sudah menghilang di belokan jalan, aku masih membayangkan kucing kecil tadi. Tak ada tempat berteduh baginya. Hanya tumpukan kayu yang tak akan berhasil membuatnya tetap kering jika hujan besar turun. Lirih di dalam hati aku memohonkan satu permintaan, “Hujan, tolong menjauh dari kucing kecil itu. Ikuti saja aku, biar aku saja yang basah kuyup.”

Entah hujan mendengar permohonanku atau tidak, tapi setidaknya satu permintaanku terkabul. Hujan mengikutiku dan membuat hampir seluruh celana panjangku basah kuyup walau sudah memakai payung.

Hujan di sore itu terasa semakin menyesakkan dada. Ada seekor anak kucing belang yang kupikirkan. Di mana dia berlindung dan bagaimana keadannya.

Selesai kuliah, aku pulang dan melewati jalan yang sama. Tak kulihat sosok atau suaranya. Di seberang jalan aku berhenti untuk membeli lauk makan malam. Saat menunggu pesanan, terdengar suara si kucing kecil itu. Ia sedang merengek di belakang pagar, tepat di samping sepasang pelanggan yang sedang menyantap makan malam. Kedua orang itu tampak sibuk menyodorkan makanan kepada si pus kecil. Si belang itu kelihatannya cukup sehat dan bahagia sore ini. Entah tadi hujan mengguyurnya atau tidak, tapi aku bersyukur untuknya. Setidaknya satu hari yang berat telah berhasil ia lewati.

Jumat, 06 Januari 2012

MONEY POLITIC


Aku agak terenyuh saat mengamati gambar di dalam selembar uang kertas seribu rupiah. Awalnya, kupikir kalau coretan di alat pembayaran itu hanyalah tulisan iseng yang biasanya berisi kata-kata seperti, “milik x, jalan x, kota x” atau “x aku cinta kamu”. Keisengan yang paling parah, dan lagi-lagi korbannya adalah uang seribuan, adalah polesan tinta pada sosok Kapitan Pattimura yang membuat tampang Nyong Ambon itu berubah menjadi sosok Naruto. Sayang, aku tak sempat mengabadikannya dalam sebuah dokumen foto.



Geli hati aku membaca tulisan itu. Kalaulah benar tulisan itu memang buah karya seorang siswa, mungkin SMP atau SMA, betul-betul gawat negara kita ini, bah. Sebuah praktik money politic yang real terjadi dan terdokumentasi. Pertanyaannya, dari mana anak SMP atau SMA belajar money politic? Enggak mungkin terinspirasi dari mimpi tadi malam atau cicak-cicak di dinding kan? Intinya, mereka belajar dari orang dewasa, kita-kita yang lebih dahulu lahir dari mereka. Melihat di tv, membaca koran, mendengar radio. Praktik money politic demikian seringnya terjadi dan diberitakan sehingga dengan mudah juga mereka mengimitasi perbuatan tersebut.

Aku adalah golongan yang setidaknya, tidak percaya pada dua hal, pertama money politic, kedua kenakalan remaja. Setelah lelah dua tahun berkecimpung di dunia LSM yang sedang gandrung menggelar program dari gerakan sosial ke gerakan politik (gersos ke gerpol), nyata sekali kalau gerakan yang dibangun oleh civil society juga tak benar-benar bergerak dari akar rumput. Setali tiga uang saja dengan praktik politik yang dilakukan oleh elit partai. Untungnya bagi kelompok masyarakat tersebut, ada money politic yang bisa disalahkan. Walau evaluasi mendalam mengindikasikan bahwa kegagalan gersos ke gerpol adalah karena belum adanya partisipasi dari akar rumput, tetap saja money politic dijadikan kambing hitam utama. Menurutku, rakyat tidak bodoh. Mereka tahu kok kalau mereka sedang dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu, termasuk untuk kepentingan lembaga pendamping mereka. Lantas, apa pantas menyalahkan money politic semata. Kita boleh berpendapat, tapi saya tak percaya money politic tok yang menjadi penyebab kegagalan gersos ke gerpol. Oleh sebab itu, saya mendukung gerakan lainnya, yaitu germo alias gerakan moral.

Tentang kenakalan remaja, pemahaman ini juga kudapatkan dari pengalaman empiris selama bekerja di lembaga perlindungan anak. Walau hanya bertahan enam bulan, setidaknya aku yakin bahwa kenakalan remaja yang selalu digembar-gemborkan oleh orang dewasa, sekali lagi adalah kambing hitam dari kegagalan kita dalam mengasuh para generasi muda (saya berharap masih bisa mengelak karena memang secara biologis tak pernah memproduksi anak, mohon maaf jika ada yang pernah saya hamili atau merasa saya hamili). Apa yang disebut kenakalan remaja, menurutku hanyalah refleksi dari kenakalan orang tua. Orang tua yang tidak punya waktu untuk anaknya, orang tua yang hanya memberikan fasilitas fisik semata, dan deretan kegagalan lainnya.

Suatu ketika, seorang dosen pernah curhat di kelas. Intinya ia mengeluhkan situasi mutakhir saat ini yang membuatnya jadi berpikir keras bagaimana kelak ia akan membesarkan anaknya. Lalu, saya berkata, “salah Anda sendiri, kenapa beranak.” Mungkin karena dosen yang bersangkutan berjenis kelamin laki-laki, ia mungkin merasa bahwa ungkapan “beranak” itu hanya cocok dikaitkan kepada perempuan, maka ia menjawab, “saya enggak beranak, kok.”

Aku yakin, pemikiran bahwa “beranak” itu adalah spesifik domain perempuan bukan saja ada di dalam benak dosen tersebut. Beranak yang kumaksud adalah memiliki anak, secara biologis tidak mungkin terjadi tanpa keterlibatan laki-laki, langsung atau tidak langsung. Bahkan kalaupun merujuk pada Maria atau Kunti yang beranak tanpa senggama dengan laki-laki, toh mereka didatangi dewa/malaikat, yang saya yakin kalau mau dipertanyakan serius, pastilah jenis kelaminnya laki-laki. Intinya, anak lahir sebagai buah pertemuan antara sel telur dari pihak perempuan dan sperma dari pihak laki-laki. Perilaku anak kelak, tentu tak bisa menjadi kesalahan satu pihak semata, ibu saja atau bapak saja. Sayangnya, di dunia yang masih sangat patrilineal ini, kesalahan anak biasanya ditumpukan pada ibu semata. Sepanjang ingatan, setidaknya dua teman laki-laki yang sudah kutegur agar segera pulang ke rumah mereka, kalau tak demi sang isteri, setidaknya demi anak. Aku selalu mengumpamakan jika mereka terlalu lama berkeliaran di dunia luar, walau dengan alasan “demi kau dan si buah hati” tetap saja tidak sehat untuk anak mereka. Bayangkan jika suatu hari temanku itu pulang dan buah hatinya membuka pintu dan bertanya, “Cari siapa, Om?” Apa tak miris hati mereka karena sudah kehilangan begitu banyak momen bersama sang buah hati?

Bagi kita orang dewasa, kekecewaan terhadap kehidupan bisa lebih mudah disembuhkan. Tapi bagi mereka anak-anak, adalah luka seumur hidup. Seorang kerabatku yang juga kehilangan kasih sayang bapak di masa kecil, mengaku bahwa di usia 30-an barulah dia bisa menyembuhkan luka hati sejak dua dekade silam. Sementara aku sendiri belum mampu secara terbuka menghadapi masalah ini, jadi jangan tanya kapan aku akan sembuh dari luka hati itu. Tapi, sebagai orang dewasa, menjadi awas adalah sikap yang selalu kupegang teguh. Anak adalah ciptaan yang amat rapuh. Mudah bagi dua orang dewasa untuk membuatnya, tapi sulit untuk membesarkannya. Sayang, ketika orang dewasa gagal, kembali anak yang jadi kambing hitam. Perilaku anak, baik dan buruk adalah cerminan keberhasilan dan kegagalan orang dewasa. Coretan di lembar seribuan itu, mugkin sesuatu yang sepele. Tapi, di kepala anak, itulah proyeksi yang ia tangkap tentang perilaku kita orang dewasa dan kemudian ia refleksikan dalam kehidupannya.

Rabu, 04 Januari 2012

WHAT WE'VE MISSED FROM THE JOURNEYS (1)

Saat mataku tertumbuk pada satu plank nama sebuah praktik dokter, aku tiba-tiba berkata pada kakak sepupu yang berjalan di samping. "Kalau di sini kakak udah boleh sakit lho." Kakak sepupuku terdiam sesaat, mengerutkan kening, dan bertanya, "Memangnya kenapa?"

"Kan udah ada praktik dokter, jadi udah bisa berobat," ujarku. Lalu kuceritakan pengalaman sekitar dua tahun yang lalu. Bertujuh, aku dan kawan-kawan, berangkat ke sebuah desa di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Kami hanya bermodal sekilo ikan teri Medan dan nama seorang bapak di sebuah desa yang kami tak tahu persis di mana tempatnya. Setelah berjalan nyasar sekitar satu jam, kembali ke tempat kami salah memilih jalan sekitar setengah jam, dan setengah jam lainnya menuju desa yang dimaksud, kamipun mencari di mana rumah orang yang kami tuju. Tak ada RT atau RW apalagi nomor rumah, hanya nama. Selayaknya di kampung yang masih sangat tradisional, setiap orang saling mengenal, dan dengan mudah kami menemukan rumah bapak tersebut.

Dengan menyebut nama seorang kawan yang dulu pernah PKL di desa itu, kamipun disambut. Ikan teri kami serahkan kepada sang nyonya rumah, dan kamipun tanpa malu-malu menerima tawaran untuk beristirahat di atas tikar yang digelar lebar-lebar di ruang utama. Tak lama kemudian, tujuh gelas kosong dan dua teko berisi kopi dan teh manis pun dibawa oleh seorang anak perempuan yang melihat kami dengan tatapan dan senyum polosnya. Malam setelah makan, kami bertujuh bergelung di bawah selimut di atas lantai papan beralaskan tikar. Beberapa orang, anak-cucu pemilik rumah yang kebetulan sedang berkunjung, tidur tak jauh dari tumpukan tidur kami. Lazimnya rumah di kampung, hanya ada satu ruang privat bagi si pemilik rumah. Jadi setiap tamu, apapun statusnya, entah anak kandung sendiri atau pengunjung tak jelas seperti kami, tidur di tempat yang sama dengan fasilitas yang sama pula.

Paginya, walau tak terbiasa, kami mencoba menikmati rutinitas pagi hari, mandi, buang air besar, dan semua aktivitas lainnya di kamar mandi umum. Mandi bertelanjang bulat di hadapan para perempuan tua-muda. Mengeluarkan bunyi kentut di lobang wc yang hanya dibatasi tembok tipis di samping kerumunan orang yang mandi dan mengambil air minum. Setelah selesai mengurusi tetek-bengek pagi hari,  kami disambut di rumah dengan sarapan hangat dengan ikan teri sebagai lauk utama. Rebusan sawi putih dan sambal ikan teri terasa amat nikmat saat itu. Tapi mungkin merasa bahwa makan kami kurang lahap, anak laki-laki tertua di rumah itupun menyuruh kami menambah isi piring.

"Makan yang banyak, dek. Di sini enggak ada Puskesmas, jadi enggak boleh sakit. Makanya, makanlah yang banyak, supaya jangan sakit kalian," ujarnya. Sesaat kami mencoba mencerna kalimat tersebut, kemudian kamipun tertawa serempak-miris. Betapa kehidupan telah memberi mereka tantangan yang tak mampu mereka hadapi, sehingga akhirnya solusi yang dibuatpun begitu anehnya : makan banyak supaya tak sampai sakit. Apa tak pernah sekalipun ada pihak pemda yang mendengar lelucon seperti itu sehingga tergerak hati mereka untuk membangun fasilitas kesehatan minimal selevel puskesmas di kampung tersebut? Entahlah.

Kuceritakan kisah itu pada sepupuku yang kemudian termangu, lalu tertawa sejenak, dan termangu lagi, serta ditutup dengan tarikan nafas panjang. Yah, begitulah. Setidaknya, di pulau kecil ini ada sebuah praktik dokter, tempat orang sakit bisa berkeluh-kesah dan mendapatkan pengobatan. Sehingga mereka tak perlu makan banyak-banyak agar jangan sampai penyakit menyerang mereka.

Rabu, 21 Desember 2011

ARE WE READY TO BE DIGITIZED?

Judul tulisan di atas mungkin bisa dikaji secara teoritik dan pasti terkesan ilmiah. Tapi tidak, aku enggak akan mengubah blok ini menjadi lembar-lembar makalah akademik. Ini cerita tentang digitalisasi yang lagi kita gembar-gemborkan.

Dua hari yang lalu, aku pergi ke salah satu kantor bank swasta di Yogyakarta dengan tujuan memasukkan uang listrik kos-kosan ke dalam rekening sekaligus mencetak buku tabungan yang sudah 6 bulan tak terkena tinta printer dan meminta kalender duduk yang bisanya diterbitkan dengan eksklusif oleh bank yang bersangkutan. Karena sudah agak mepet dengan jadwal kegiatan lainnya, aku naik taksi dan kena argo 10 ribu perak. Setelah mengantri beberapa menit di barisan setoran cepat (<10 juta), aku menyerahkan slip penyetoran, buku tabungan, dan uang dua ratus ribu. Si petugas lantas berkata, kalau aku akan dikenai biaya administrasi sebesar 5 ribu rupiah. Kenapa? Karena rekeningku berasal dari luar kota Yogyakarta. Ya iyalah, aku kan bukan penduduk Jogja, jelas punya rekening luar kota dan tak berniat membuka rekening di kota ini. Permasalahannya, apa gunanya sistem online yang digadang-gadang oleh semua bank swasta dan pemerintah. kalau masih saja dikenakan biaya administrasi seperti ini?

Selesai satu urusan, aku pun pindah ke bagian pelayanan pelanggan. Aku minta kalender duduk, si petugas meminta menunjukkan buku tabungan. Dan ternyata, aku tak bisa mendapat kalender tersebut karena rekeningku berasal dari luar kota Yogyakarta. Semakin masamlah mukaku yang sudah kelaparan karena belum sarapan dari pagi.

Apalah guna menggadang-gadang label "ONLINE" kalau sistem administrasi dan pelayanan masih seperti di jaman The Flinstone. Kalau toh sama saja seperti sebelum online, lebih baik aku menabung di BPR atau credit union saja. Sudahlah administrasi bank 10 ribu/bulan, layanan ala kadarnya, online-nya cuma merek tanpa jelas penerapannya. Lebih baik kembali saja ke jaman manual.

Lagi, tadi pagi. Setelah secara sepihak pemilik kosan memindahkan sistem pembayaran listrik menjadi prabayar, aku harus membeli rekening listrik ke mesin ATM di salah satu bank swasta lainnya. Pagi-pagi, lagi belum sarapan, aku dan seorang teman kos menggenjot sepeda ke ATM.  Di salah satu ATM, kami gagal bertransaksi. Di tengah padatnya arus transportasi Jogja di pagi hari, kami kembali mengayuh sepeda ke mesin ATM di tempat lain. Transaksi pembelian pulsa berhasil dilakukan, ketika satpam menghampiri kami dan bertanya apakah kami berhasil melakukan transaksi. Tentu dengan wajah sumringah kami bilang, "Ya berhasil." Sementara orang-orang lain yang mengantri gagal bertransaksi karea sistem bank tersebut sedang dan telah down sejak sehari sebelumnya.

Pasti senyum kami tak akan mengembang kalau tahu bahwa ternyata transaksi kamipun gagal, seperti para pengguna ATM pagi itu. Dan sorenya, belum lagi perkuliahan terakhir bubar, aku sudah mendapat sms oleh salah seorang anak kos yang memberitahu kalau pulsa listrik sudah sangat tipis. Kalau sudah begini, teknologi digital justru menjadi beban, menyita waktu, pikiran, dan emosi. Sistem kita belum siap, tapi institusi (swasta dan pemerintah) sudah petentengan mau berdigital ria. Ngaca donk!

Rabu, 14 Desember 2011

HOW TO TELL A LOVE STORY

Empat hari setelah aku menonton konser Richard Marx di Jakarta, rasanya masih sulit bagaimana menceritakan pertunjukan musik itu. Tentu, dengan metode 5W + H, aku bisa bercerita banyak. Konser tersebut mengambil tema Richard Marx World Tour 2011, bertempat di Gandaria City, Jakarta. Penonton diperkirakan berjumlah 1.600 orang, terbagi atas tiga kelas, Diamond, Emerald, Sapphire. Konser dibuka oleh penampilan Ari Lasso yang membawakan 6 lagu, Rahasia Perempuan, Arti Cinta, Penjaga Hati, Perbedaan, Hampa, Misteri Ilahi, dan medley Kangen dan Kamulah Satu-satunya. Sementara itu, Richard Marx membawa 19 lagu, di antaranya Endless Summer Night, Satisfied, Hazard, dan tembang pamungkas Right Here Waiting. Konser yang dimulai sejak jam 20.30 tersebut berakhir jam 23.00.


Is that all? Tentu tidak. Konser itu jelas bukan sekadar deretan jumlah dan judul lagu. Buatku, konser itu adalah sebuah perjalanan jiwa, mundur kembali ke masa lalu di mana lagu-lagu sang rockstar menjadi soundtrack hidupku. Bagaimana menceritakan konser tersebut tanpa melekatkannya pada perasaan yang kumiliki pada sang penyanyi? Tentu tak mungkin.

Di antara ribuan penonton, di deretan bangku terdepan kelas paling belakang, dan terkadang harus menjulurkan leher sepanjang mungkin agar bisa melihat sosoknya langsung bukan pada citra yang terlihat di layar raksasa. Berusaha melihat sedetail mungkin wajah sang pencipta lagu yang sudah tak muda lagi. Dan yang terpenting menikmati setiap detik denting gitar atau piano yang dia mainkan dan suaranya melantunkan syair-syair lagu.

Lebay! Yup! Tapi begitulah cinta. Bukankah tak ada rumusan pakem dari cinta. Kita bisa terhanyut tanpa tahu sedang hanyut. Begitulah aku menikmati konser tersebut. Saat orang-orang di sekelilingku sibuk mengambil gambar atau merekam lagu Richard Marx, aku duduk manis mendengarkan dan melihat sosok yang ada puluhan meter di depanku itu. Begitulah ceritaku tentang konser penyanyi yang suaranya adalah cinta pertamaku itu.


Kamis, 08 Desember 2011

IT'S NOT A CONCERT, IT'S A FIRST LOVE

Selama 28 tahun hidup, tak pernah sekalipun aku menonton konser musik, entah itu gratis atau berbayar, artis luar negeri atau Indonesia. Mungkin karena aku selalu menghindari keramaian, konser, terutama musik, bukan salah satu hiburan favoritku. Sampai sekitar sebulan yang lalu, saat sedang berselancar ke dunia maya mencari lagu-lagu lawas yang biasanya lebih asyik didengar daripada lagu terkini. Dan sampailah aku ke salah satu nama yang kuakrabi sejak lebih dari 10 tahun yang lalu. Karena iseng, akupun membuka beberapa situs untuk membaca kabar terkini penyanyi yang 20 tahun lebih tua dariku itu. Dan ternyata, tak sampai sebulan lagi, ia akan mengadakan konser di Jakarta. Satu yang langsung terbersit di kepalaku, "Aku harus menonton konsernya"


Sebelas tahun yang lalu, tepatnya di pertengahan 2000, usiaku 17 tahun, kelas 2 SMA, saat itu ada banyak penyanyi, terutama boyband yang sedang naik daun. Di tv dan radio, suara mereka kerap terdengar. Tapi takdir berkata lain, mereka bukan cinta pertamaku. Suatu hari, ibuku mengajak belanja di kota Binjai. Iseng, kami memasuki sebuah toko elektronik yang juga menjual kaset. Waktu itu, cd dan mp3 belum booming di Indonesia. Iseng, aku meminta ibu membelikan dua buah kaset. Yang satu berupa album kompilasi dan yang satunya, album Greatest Hits Richard Marx.

Tak tahu siapa dia, apa lagunya, terkenalkah dia, dll, aku membeli album itu. Dan tentu saja, album itu bukan favoritku. Pertama, aku tak akrab dengan tembang-tembang yang ia nyanyikan, kedua, beberapa lagu di album kompilasi itu terlalu berat buatku yang hidup di generasi boyband.

Aku jatuh cinta setelah sekian lama album Richard Marx nangkring di tempat kaset di ruang tamu. Di satu masa ketika SMA, aku sering menderita sakit kepala mahadahsyat sampai pernah harus permisi pulang dari sekolah. Biasanya setelah mendapat bantuan medis dari klinik, aku tidur di kamar ibuku, menanti obat bereaksi dan mata mengantuk. Di sisi atas tempat tidur ibuku, ada sebuah pemutar kaset recorder yang dulunya adalah tape yang menghiasi mobil bapakku. Sampai suatu hari terjadi kecelakaan, mobil dan bapakku pun tewas. Yang tersisa dari mobil dan bapakku hanyalah tape tersebut.

Di tape mantan mobil mendiang bapakku itulah aku memutar kaset Greatest Hits itu. Tape itu adalah jenis yang bisa memutar secara simultan side A dan side B dan seterusnya. Jadi, ketika aku menunggu mata tertidur, layap-layap kudengar alunan suara Richard Marx, kadang di tembang yang melow, kadang nge-beat. Ada kalanya aku terbangun, kepalaku yang tadinya terasa berdenyut-denyut, dengan bantuan obat penenang dosis tinggi, mereda sakitnya. Dalam keadaan sakau karena CTM, aku mendengar sayup-sayup nada-nada lembut dari beberapa lagu yang kemudian hari aku tahu begitu mendunia seperti Right Here Waiting.

Namun, aku tak pernah benar-benar jatuh cinta pada lagu tersebut. "Thanks to You", lagu yang tampaknya ia persembahkan untuk sang ibu, jauh lebih menghanyutkanku. Mungkin karena dibesarkan tanpa terlalu menunjukkan rasa keakraban, sulit sekali untuk mengungkapkan rasa terimakasih pada ibuku, yang pada masa itu sedang melewati fase-fase penuh perjuangan setelah kematian bapak. Ada kalanya, saat aku terkapar karena sakit kepala menyerang, ia bolak-balik dari sekolah tempatnya mengajar ke rumah untuk melihat kondisiku, entah aku sedang tertidur atau sudah bolak-balik di atas tempat tidurnya yang nyaman. Dalam lagu "Thanks to You" itu aku merepresentasikan rasa terimakasih pada ibu yang sampai saat ini belum bisa kuucapkan secara langsung.

Dari sebuah lagu, sembari menunggu obat penenang mengantarku ke dunia mimpi atau saat mataku terbangun setelah dua jam tertidur, aku semakin menikmati aliran instrumen dan suara Richard Marx. Dialah cinta pertamaku-pada karya musik, pada seorang penyanyi dan pencipta lagu.

Ketika kuputuskan menggunakan ratusan ribu rupiah untuk membeli tiket, walau di barisan paling belakang ruang pertunjukan, bukan karena aku ingin menonton konser. Lebih dari itu, aku ingin mendengar langsung, alunan suara dari cinta pertamaku. Bukan pada Richard Marx sebagai entitas manusia fisik semata, tapi bagi seseorang yang karyanya mewarnai sejarah hidupku dan  menjadi soundtrack dari kisah yang kulewati, saat aku melewati rasa sakit, saat aku ingin mengucapkan terima kasih pada ibuku. Sosok itulah yang ingin kutonton. Suara yang telah mengurai dan mengingatkan pada fase-fase terberat dalam hidupku. Suara itulah yang ingin kudengar.

Senin, 05 Desember 2011

FORGETTING: AN INSTANT METHOD TO RESOLVE PROBLEM

"When i don't like somebody, i try to not hate them. Though, i try to forget them, because they're no one to me. No one to remember, no one to think about, just NO ONE."


Status itu kutulis dua hari yang lalu dan mendapat 7 like dan 1 protes lembek dan 1 protes keras. Well, dalam rangka menghargai perbedaan dan untuk tidak memanipulasi informasi, silakan dilihat langsung ke status fb ecie ana pada tanggal 12 Desember 2011. Di sini, aku ingin menceritakan sedikit sejarah dan metode melupakan yang sudah kuanut sejak lebih dari satu dekade yang lalu.


Mengapa harus melupakan? Technically, otak manusia punya kapasitas yang terbatas untuk menyimpan memori. Kata yahoo.answer : 


"Otak manusia memiliki sekitar 50 sampai 200 miliar neuron,
tiap satu neuron berhubungan dengan 100.000 neuron lainnya sehingga membentuk 100 trilyun sampai 10 bilyun jembatan sinapsis (penghubung antar satu neuron dengan neuron lain).
Setiap sinapsis mempunyai kemampuan menyimpan jenis informasi yang berbeda sampai jumlah tertentu, jika kita asumsikan kemampuannya mencapai 256 informasi yang berbeda dan tiap neuron mempunyai 10.000 sinapsis maka total kapasitas penyimpanan informasi dalam otak kita mencapai 500 sampai 1000 tera bytes.
Namun jika level penyimpanan informasi dalam otak kita terjadi pada tingkat molekular (molekul yang membentuk sel neuron) maka tingkat penyimpanannya akan jauh lebih besar, beberapa orang memperkirakan mencapai 3,6 x 10 pangkat 19 bytes."





Lha itu besar donk. Iya, kalau kita hidup cuma dua jam. Tapi kita kan hidup sudah bertahun-tahun. Memori sebegitu sih kecil. Buktinya, kita sering lupa. Fakta ilmiah sudah disajikan. Maka aku mencoba me-recall sejarah metode melupakan yang kulakukan selama ini.


Asumsiku, dari 7 pemberi like juga punya sejarah mengapa mereka setuju untuk melupakan dibanding wasting time melewati proses memaafkan yang bertele-tele dan buang energi itu. 


Agar tulisan ini tidak ahistoris, aku coba me-recall beberapa memori di masa lalu. Alkisah ketika SMA, ada seorang teman yang kita beri nama Mr X. Jadi, ia beberapa kali berulah dan bertingkah menyebalkan. Dari hal-hal yang remeh, kemudian suatu hari ia bertingkah supermenyebalkan. Setelah mengeluarkan kata makian seperlunya, aku pun mendiamkannya. Beberapa hari berlalu, Mr X tak juga bisa dilupakan---karena dia duduk di kursi di depanku. Akhirnya pada suatu hari, setelah lelah memendam amarah, aku berusaha berbaikan. Masalah selesai? Tidak juga. Masih sering aku ditanya-tanya tentang pertengkaran yang pernah terjadi di antara kami. Setiap kali aku bercerita, maka setiap kali itu pula aku memanggil memori yang menyakitkan itu. Kemarahan, kebencian, walau sudah berapa kalipun ingin kuselesaikan selalu saja datang. Karena aku menceritakannya, karena aku mengingatnya.


Yang lebih parah datang kemudian. Mr X berulah lagi. Kali ini lebih parah dan amarahku terasa sampai mau menyemburkan api seperti di film-film kartun. Then what? Berusaha memaafkan lagi, berdamai, menenangkan hati. Dan waktu itu sudah memasuki masa ujian nasional, yang kala itu masih disebut Ebta dan Ebtanas. Menghabiskan energi untuk masalah yang sama dengan orang yang sama, it's not smart at all. Akhirnya, aku mengambil solusi ekstrim. Forget it, forget him. Aku tak pernah menceritakan tentang peristiwa itu, tak pernah mengingatnya --- dan menyisakan memori dan energi lebih banyak untuk pelajaran sekolah. Masalah selesai. 


Percobaan pertama sukses dan aku berusaha untuk menyelesaikan masalah kecil dengan cara konvensional biasa. Berdiskusi, bercerita, kadang dengan bumbu-bumbu rasa tidak suka, kadang hanya sekadar bercerita tanpa rasa sama sekali, hanya narasi. Namun, terkadang masalah dan orang yang dihadapi terlalu menyebalkan dan bertele-tele. Parahnya, masalah dan orang itupun tak penting-penting amat kok. Dia siapa, apa pengaruhnya kalau dia tak ada, sama sekali tidak signifikan. Tapi, kok ya selalu saja memikirkan subjek yang sama, menghabiskan memori, emosi, dan energi. Maka aku memilih untuk melupakan.


Apakah metode ini cukup ampuh, apakah tidak meninggalkan luka yang bernanah dan membusuk, apakah tidak menimbulkan trauma?


Suatu hari, sekitar 3 tahun setelah kejadian dengan Mr X, seorang teman SMA datang ke rumah dan bercerita tentang kejadian masa lalu, perseteruanku dengan Mr X, dan bagaimana aku menyelesaikannya. Dan ketika aku berusaha me-recall memori itu, tak ada kemarahan, tak ada benci, tak ada luka, tak ada nanah, tak ada yang membusuk. Aku seperti melihat sesuatu pada pertemuan pertama, tanpa tendensi, tanpa asumsi. Dan yang jelas, pada masa lalu, aku berhasil menghilangkan satu rangkaian proses yang panjang dan menyakitkan bernama memaafkan. Masalah selesai. Di tengah berbagai derita, pergumulan, beban, pertengkaran, yang kadang kita tidak bisa elakkan karena tingkat urgensinya, berkaitan dengan keluarga dekat, sahabat, yang terkasih, seseorang yang penting, teknik melupakan ternyata, bagiku, lebih cepat menyelesaikan masalah daripada mengikuti alur pemaafan konvensional.