Rabu, 04 Januari 2012

WHAT WE'VE MISSED FROM THE JOURNEYS (1)

Saat mataku tertumbuk pada satu plank nama sebuah praktik dokter, aku tiba-tiba berkata pada kakak sepupu yang berjalan di samping. "Kalau di sini kakak udah boleh sakit lho." Kakak sepupuku terdiam sesaat, mengerutkan kening, dan bertanya, "Memangnya kenapa?"

"Kan udah ada praktik dokter, jadi udah bisa berobat," ujarku. Lalu kuceritakan pengalaman sekitar dua tahun yang lalu. Bertujuh, aku dan kawan-kawan, berangkat ke sebuah desa di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Kami hanya bermodal sekilo ikan teri Medan dan nama seorang bapak di sebuah desa yang kami tak tahu persis di mana tempatnya. Setelah berjalan nyasar sekitar satu jam, kembali ke tempat kami salah memilih jalan sekitar setengah jam, dan setengah jam lainnya menuju desa yang dimaksud, kamipun mencari di mana rumah orang yang kami tuju. Tak ada RT atau RW apalagi nomor rumah, hanya nama. Selayaknya di kampung yang masih sangat tradisional, setiap orang saling mengenal, dan dengan mudah kami menemukan rumah bapak tersebut.

Dengan menyebut nama seorang kawan yang dulu pernah PKL di desa itu, kamipun disambut. Ikan teri kami serahkan kepada sang nyonya rumah, dan kamipun tanpa malu-malu menerima tawaran untuk beristirahat di atas tikar yang digelar lebar-lebar di ruang utama. Tak lama kemudian, tujuh gelas kosong dan dua teko berisi kopi dan teh manis pun dibawa oleh seorang anak perempuan yang melihat kami dengan tatapan dan senyum polosnya. Malam setelah makan, kami bertujuh bergelung di bawah selimut di atas lantai papan beralaskan tikar. Beberapa orang, anak-cucu pemilik rumah yang kebetulan sedang berkunjung, tidur tak jauh dari tumpukan tidur kami. Lazimnya rumah di kampung, hanya ada satu ruang privat bagi si pemilik rumah. Jadi setiap tamu, apapun statusnya, entah anak kandung sendiri atau pengunjung tak jelas seperti kami, tidur di tempat yang sama dengan fasilitas yang sama pula.

Paginya, walau tak terbiasa, kami mencoba menikmati rutinitas pagi hari, mandi, buang air besar, dan semua aktivitas lainnya di kamar mandi umum. Mandi bertelanjang bulat di hadapan para perempuan tua-muda. Mengeluarkan bunyi kentut di lobang wc yang hanya dibatasi tembok tipis di samping kerumunan orang yang mandi dan mengambil air minum. Setelah selesai mengurusi tetek-bengek pagi hari,  kami disambut di rumah dengan sarapan hangat dengan ikan teri sebagai lauk utama. Rebusan sawi putih dan sambal ikan teri terasa amat nikmat saat itu. Tapi mungkin merasa bahwa makan kami kurang lahap, anak laki-laki tertua di rumah itupun menyuruh kami menambah isi piring.

"Makan yang banyak, dek. Di sini enggak ada Puskesmas, jadi enggak boleh sakit. Makanya, makanlah yang banyak, supaya jangan sakit kalian," ujarnya. Sesaat kami mencoba mencerna kalimat tersebut, kemudian kamipun tertawa serempak-miris. Betapa kehidupan telah memberi mereka tantangan yang tak mampu mereka hadapi, sehingga akhirnya solusi yang dibuatpun begitu anehnya : makan banyak supaya tak sampai sakit. Apa tak pernah sekalipun ada pihak pemda yang mendengar lelucon seperti itu sehingga tergerak hati mereka untuk membangun fasilitas kesehatan minimal selevel puskesmas di kampung tersebut? Entahlah.

Kuceritakan kisah itu pada sepupuku yang kemudian termangu, lalu tertawa sejenak, dan termangu lagi, serta ditutup dengan tarikan nafas panjang. Yah, begitulah. Setidaknya, di pulau kecil ini ada sebuah praktik dokter, tempat orang sakit bisa berkeluh-kesah dan mendapatkan pengobatan. Sehingga mereka tak perlu makan banyak-banyak agar jangan sampai penyakit menyerang mereka.

Rabu, 21 Desember 2011

ARE WE READY TO BE DIGITIZED?

Judul tulisan di atas mungkin bisa dikaji secara teoritik dan pasti terkesan ilmiah. Tapi tidak, aku enggak akan mengubah blok ini menjadi lembar-lembar makalah akademik. Ini cerita tentang digitalisasi yang lagi kita gembar-gemborkan.

Dua hari yang lalu, aku pergi ke salah satu kantor bank swasta di Yogyakarta dengan tujuan memasukkan uang listrik kos-kosan ke dalam rekening sekaligus mencetak buku tabungan yang sudah 6 bulan tak terkena tinta printer dan meminta kalender duduk yang bisanya diterbitkan dengan eksklusif oleh bank yang bersangkutan. Karena sudah agak mepet dengan jadwal kegiatan lainnya, aku naik taksi dan kena argo 10 ribu perak. Setelah mengantri beberapa menit di barisan setoran cepat (<10 juta), aku menyerahkan slip penyetoran, buku tabungan, dan uang dua ratus ribu. Si petugas lantas berkata, kalau aku akan dikenai biaya administrasi sebesar 5 ribu rupiah. Kenapa? Karena rekeningku berasal dari luar kota Yogyakarta. Ya iyalah, aku kan bukan penduduk Jogja, jelas punya rekening luar kota dan tak berniat membuka rekening di kota ini. Permasalahannya, apa gunanya sistem online yang digadang-gadang oleh semua bank swasta dan pemerintah. kalau masih saja dikenakan biaya administrasi seperti ini?

Selesai satu urusan, aku pun pindah ke bagian pelayanan pelanggan. Aku minta kalender duduk, si petugas meminta menunjukkan buku tabungan. Dan ternyata, aku tak bisa mendapat kalender tersebut karena rekeningku berasal dari luar kota Yogyakarta. Semakin masamlah mukaku yang sudah kelaparan karena belum sarapan dari pagi.

Apalah guna menggadang-gadang label "ONLINE" kalau sistem administrasi dan pelayanan masih seperti di jaman The Flinstone. Kalau toh sama saja seperti sebelum online, lebih baik aku menabung di BPR atau credit union saja. Sudahlah administrasi bank 10 ribu/bulan, layanan ala kadarnya, online-nya cuma merek tanpa jelas penerapannya. Lebih baik kembali saja ke jaman manual.

Lagi, tadi pagi. Setelah secara sepihak pemilik kosan memindahkan sistem pembayaran listrik menjadi prabayar, aku harus membeli rekening listrik ke mesin ATM di salah satu bank swasta lainnya. Pagi-pagi, lagi belum sarapan, aku dan seorang teman kos menggenjot sepeda ke ATM.  Di salah satu ATM, kami gagal bertransaksi. Di tengah padatnya arus transportasi Jogja di pagi hari, kami kembali mengayuh sepeda ke mesin ATM di tempat lain. Transaksi pembelian pulsa berhasil dilakukan, ketika satpam menghampiri kami dan bertanya apakah kami berhasil melakukan transaksi. Tentu dengan wajah sumringah kami bilang, "Ya berhasil." Sementara orang-orang lain yang mengantri gagal bertransaksi karea sistem bank tersebut sedang dan telah down sejak sehari sebelumnya.

Pasti senyum kami tak akan mengembang kalau tahu bahwa ternyata transaksi kamipun gagal, seperti para pengguna ATM pagi itu. Dan sorenya, belum lagi perkuliahan terakhir bubar, aku sudah mendapat sms oleh salah seorang anak kos yang memberitahu kalau pulsa listrik sudah sangat tipis. Kalau sudah begini, teknologi digital justru menjadi beban, menyita waktu, pikiran, dan emosi. Sistem kita belum siap, tapi institusi (swasta dan pemerintah) sudah petentengan mau berdigital ria. Ngaca donk!

Rabu, 14 Desember 2011

HOW TO TELL A LOVE STORY

Empat hari setelah aku menonton konser Richard Marx di Jakarta, rasanya masih sulit bagaimana menceritakan pertunjukan musik itu. Tentu, dengan metode 5W + H, aku bisa bercerita banyak. Konser tersebut mengambil tema Richard Marx World Tour 2011, bertempat di Gandaria City, Jakarta. Penonton diperkirakan berjumlah 1.600 orang, terbagi atas tiga kelas, Diamond, Emerald, Sapphire. Konser dibuka oleh penampilan Ari Lasso yang membawakan 6 lagu, Rahasia Perempuan, Arti Cinta, Penjaga Hati, Perbedaan, Hampa, Misteri Ilahi, dan medley Kangen dan Kamulah Satu-satunya. Sementara itu, Richard Marx membawa 19 lagu, di antaranya Endless Summer Night, Satisfied, Hazard, dan tembang pamungkas Right Here Waiting. Konser yang dimulai sejak jam 20.30 tersebut berakhir jam 23.00.


Is that all? Tentu tidak. Konser itu jelas bukan sekadar deretan jumlah dan judul lagu. Buatku, konser itu adalah sebuah perjalanan jiwa, mundur kembali ke masa lalu di mana lagu-lagu sang rockstar menjadi soundtrack hidupku. Bagaimana menceritakan konser tersebut tanpa melekatkannya pada perasaan yang kumiliki pada sang penyanyi? Tentu tak mungkin.

Di antara ribuan penonton, di deretan bangku terdepan kelas paling belakang, dan terkadang harus menjulurkan leher sepanjang mungkin agar bisa melihat sosoknya langsung bukan pada citra yang terlihat di layar raksasa. Berusaha melihat sedetail mungkin wajah sang pencipta lagu yang sudah tak muda lagi. Dan yang terpenting menikmati setiap detik denting gitar atau piano yang dia mainkan dan suaranya melantunkan syair-syair lagu.

Lebay! Yup! Tapi begitulah cinta. Bukankah tak ada rumusan pakem dari cinta. Kita bisa terhanyut tanpa tahu sedang hanyut. Begitulah aku menikmati konser tersebut. Saat orang-orang di sekelilingku sibuk mengambil gambar atau merekam lagu Richard Marx, aku duduk manis mendengarkan dan melihat sosok yang ada puluhan meter di depanku itu. Begitulah ceritaku tentang konser penyanyi yang suaranya adalah cinta pertamaku itu.


Kamis, 08 Desember 2011

IT'S NOT A CONCERT, IT'S A FIRST LOVE

Selama 28 tahun hidup, tak pernah sekalipun aku menonton konser musik, entah itu gratis atau berbayar, artis luar negeri atau Indonesia. Mungkin karena aku selalu menghindari keramaian, konser, terutama musik, bukan salah satu hiburan favoritku. Sampai sekitar sebulan yang lalu, saat sedang berselancar ke dunia maya mencari lagu-lagu lawas yang biasanya lebih asyik didengar daripada lagu terkini. Dan sampailah aku ke salah satu nama yang kuakrabi sejak lebih dari 10 tahun yang lalu. Karena iseng, akupun membuka beberapa situs untuk membaca kabar terkini penyanyi yang 20 tahun lebih tua dariku itu. Dan ternyata, tak sampai sebulan lagi, ia akan mengadakan konser di Jakarta. Satu yang langsung terbersit di kepalaku, "Aku harus menonton konsernya"


Sebelas tahun yang lalu, tepatnya di pertengahan 2000, usiaku 17 tahun, kelas 2 SMA, saat itu ada banyak penyanyi, terutama boyband yang sedang naik daun. Di tv dan radio, suara mereka kerap terdengar. Tapi takdir berkata lain, mereka bukan cinta pertamaku. Suatu hari, ibuku mengajak belanja di kota Binjai. Iseng, kami memasuki sebuah toko elektronik yang juga menjual kaset. Waktu itu, cd dan mp3 belum booming di Indonesia. Iseng, aku meminta ibu membelikan dua buah kaset. Yang satu berupa album kompilasi dan yang satunya, album Greatest Hits Richard Marx.

Tak tahu siapa dia, apa lagunya, terkenalkah dia, dll, aku membeli album itu. Dan tentu saja, album itu bukan favoritku. Pertama, aku tak akrab dengan tembang-tembang yang ia nyanyikan, kedua, beberapa lagu di album kompilasi itu terlalu berat buatku yang hidup di generasi boyband.

Aku jatuh cinta setelah sekian lama album Richard Marx nangkring di tempat kaset di ruang tamu. Di satu masa ketika SMA, aku sering menderita sakit kepala mahadahsyat sampai pernah harus permisi pulang dari sekolah. Biasanya setelah mendapat bantuan medis dari klinik, aku tidur di kamar ibuku, menanti obat bereaksi dan mata mengantuk. Di sisi atas tempat tidur ibuku, ada sebuah pemutar kaset recorder yang dulunya adalah tape yang menghiasi mobil bapakku. Sampai suatu hari terjadi kecelakaan, mobil dan bapakku pun tewas. Yang tersisa dari mobil dan bapakku hanyalah tape tersebut.

Di tape mantan mobil mendiang bapakku itulah aku memutar kaset Greatest Hits itu. Tape itu adalah jenis yang bisa memutar secara simultan side A dan side B dan seterusnya. Jadi, ketika aku menunggu mata tertidur, layap-layap kudengar alunan suara Richard Marx, kadang di tembang yang melow, kadang nge-beat. Ada kalanya aku terbangun, kepalaku yang tadinya terasa berdenyut-denyut, dengan bantuan obat penenang dosis tinggi, mereda sakitnya. Dalam keadaan sakau karena CTM, aku mendengar sayup-sayup nada-nada lembut dari beberapa lagu yang kemudian hari aku tahu begitu mendunia seperti Right Here Waiting.

Namun, aku tak pernah benar-benar jatuh cinta pada lagu tersebut. "Thanks to You", lagu yang tampaknya ia persembahkan untuk sang ibu, jauh lebih menghanyutkanku. Mungkin karena dibesarkan tanpa terlalu menunjukkan rasa keakraban, sulit sekali untuk mengungkapkan rasa terimakasih pada ibuku, yang pada masa itu sedang melewati fase-fase penuh perjuangan setelah kematian bapak. Ada kalanya, saat aku terkapar karena sakit kepala menyerang, ia bolak-balik dari sekolah tempatnya mengajar ke rumah untuk melihat kondisiku, entah aku sedang tertidur atau sudah bolak-balik di atas tempat tidurnya yang nyaman. Dalam lagu "Thanks to You" itu aku merepresentasikan rasa terimakasih pada ibu yang sampai saat ini belum bisa kuucapkan secara langsung.

Dari sebuah lagu, sembari menunggu obat penenang mengantarku ke dunia mimpi atau saat mataku terbangun setelah dua jam tertidur, aku semakin menikmati aliran instrumen dan suara Richard Marx. Dialah cinta pertamaku-pada karya musik, pada seorang penyanyi dan pencipta lagu.

Ketika kuputuskan menggunakan ratusan ribu rupiah untuk membeli tiket, walau di barisan paling belakang ruang pertunjukan, bukan karena aku ingin menonton konser. Lebih dari itu, aku ingin mendengar langsung, alunan suara dari cinta pertamaku. Bukan pada Richard Marx sebagai entitas manusia fisik semata, tapi bagi seseorang yang karyanya mewarnai sejarah hidupku dan  menjadi soundtrack dari kisah yang kulewati, saat aku melewati rasa sakit, saat aku ingin mengucapkan terima kasih pada ibuku. Sosok itulah yang ingin kutonton. Suara yang telah mengurai dan mengingatkan pada fase-fase terberat dalam hidupku. Suara itulah yang ingin kudengar.

Senin, 05 Desember 2011

FORGETTING: AN INSTANT METHOD TO RESOLVE PROBLEM

"When i don't like somebody, i try to not hate them. Though, i try to forget them, because they're no one to me. No one to remember, no one to think about, just NO ONE."


Status itu kutulis dua hari yang lalu dan mendapat 7 like dan 1 protes lembek dan 1 protes keras. Well, dalam rangka menghargai perbedaan dan untuk tidak memanipulasi informasi, silakan dilihat langsung ke status fb ecie ana pada tanggal 12 Desember 2011. Di sini, aku ingin menceritakan sedikit sejarah dan metode melupakan yang sudah kuanut sejak lebih dari satu dekade yang lalu.


Mengapa harus melupakan? Technically, otak manusia punya kapasitas yang terbatas untuk menyimpan memori. Kata yahoo.answer : 


"Otak manusia memiliki sekitar 50 sampai 200 miliar neuron,
tiap satu neuron berhubungan dengan 100.000 neuron lainnya sehingga membentuk 100 trilyun sampai 10 bilyun jembatan sinapsis (penghubung antar satu neuron dengan neuron lain).
Setiap sinapsis mempunyai kemampuan menyimpan jenis informasi yang berbeda sampai jumlah tertentu, jika kita asumsikan kemampuannya mencapai 256 informasi yang berbeda dan tiap neuron mempunyai 10.000 sinapsis maka total kapasitas penyimpanan informasi dalam otak kita mencapai 500 sampai 1000 tera bytes.
Namun jika level penyimpanan informasi dalam otak kita terjadi pada tingkat molekular (molekul yang membentuk sel neuron) maka tingkat penyimpanannya akan jauh lebih besar, beberapa orang memperkirakan mencapai 3,6 x 10 pangkat 19 bytes."





Lha itu besar donk. Iya, kalau kita hidup cuma dua jam. Tapi kita kan hidup sudah bertahun-tahun. Memori sebegitu sih kecil. Buktinya, kita sering lupa. Fakta ilmiah sudah disajikan. Maka aku mencoba me-recall sejarah metode melupakan yang kulakukan selama ini.


Asumsiku, dari 7 pemberi like juga punya sejarah mengapa mereka setuju untuk melupakan dibanding wasting time melewati proses memaafkan yang bertele-tele dan buang energi itu. 


Agar tulisan ini tidak ahistoris, aku coba me-recall beberapa memori di masa lalu. Alkisah ketika SMA, ada seorang teman yang kita beri nama Mr X. Jadi, ia beberapa kali berulah dan bertingkah menyebalkan. Dari hal-hal yang remeh, kemudian suatu hari ia bertingkah supermenyebalkan. Setelah mengeluarkan kata makian seperlunya, aku pun mendiamkannya. Beberapa hari berlalu, Mr X tak juga bisa dilupakan---karena dia duduk di kursi di depanku. Akhirnya pada suatu hari, setelah lelah memendam amarah, aku berusaha berbaikan. Masalah selesai? Tidak juga. Masih sering aku ditanya-tanya tentang pertengkaran yang pernah terjadi di antara kami. Setiap kali aku bercerita, maka setiap kali itu pula aku memanggil memori yang menyakitkan itu. Kemarahan, kebencian, walau sudah berapa kalipun ingin kuselesaikan selalu saja datang. Karena aku menceritakannya, karena aku mengingatnya.


Yang lebih parah datang kemudian. Mr X berulah lagi. Kali ini lebih parah dan amarahku terasa sampai mau menyemburkan api seperti di film-film kartun. Then what? Berusaha memaafkan lagi, berdamai, menenangkan hati. Dan waktu itu sudah memasuki masa ujian nasional, yang kala itu masih disebut Ebta dan Ebtanas. Menghabiskan energi untuk masalah yang sama dengan orang yang sama, it's not smart at all. Akhirnya, aku mengambil solusi ekstrim. Forget it, forget him. Aku tak pernah menceritakan tentang peristiwa itu, tak pernah mengingatnya --- dan menyisakan memori dan energi lebih banyak untuk pelajaran sekolah. Masalah selesai. 


Percobaan pertama sukses dan aku berusaha untuk menyelesaikan masalah kecil dengan cara konvensional biasa. Berdiskusi, bercerita, kadang dengan bumbu-bumbu rasa tidak suka, kadang hanya sekadar bercerita tanpa rasa sama sekali, hanya narasi. Namun, terkadang masalah dan orang yang dihadapi terlalu menyebalkan dan bertele-tele. Parahnya, masalah dan orang itupun tak penting-penting amat kok. Dia siapa, apa pengaruhnya kalau dia tak ada, sama sekali tidak signifikan. Tapi, kok ya selalu saja memikirkan subjek yang sama, menghabiskan memori, emosi, dan energi. Maka aku memilih untuk melupakan.


Apakah metode ini cukup ampuh, apakah tidak meninggalkan luka yang bernanah dan membusuk, apakah tidak menimbulkan trauma?


Suatu hari, sekitar 3 tahun setelah kejadian dengan Mr X, seorang teman SMA datang ke rumah dan bercerita tentang kejadian masa lalu, perseteruanku dengan Mr X, dan bagaimana aku menyelesaikannya. Dan ketika aku berusaha me-recall memori itu, tak ada kemarahan, tak ada benci, tak ada luka, tak ada nanah, tak ada yang membusuk. Aku seperti melihat sesuatu pada pertemuan pertama, tanpa tendensi, tanpa asumsi. Dan yang jelas, pada masa lalu, aku berhasil menghilangkan satu rangkaian proses yang panjang dan menyakitkan bernama memaafkan. Masalah selesai. Di tengah berbagai derita, pergumulan, beban, pertengkaran, yang kadang kita tidak bisa elakkan karena tingkat urgensinya, berkaitan dengan keluarga dekat, sahabat, yang terkasih, seseorang yang penting, teknik melupakan ternyata, bagiku, lebih cepat menyelesaikan masalah daripada mengikuti alur pemaafan konvensional. 





Selasa, 29 November 2011

TOO MUCH LOVE WILL KILL YOU... AS WELL AS ROUTINES


Ini yang terjadi ketika aku terbangun karena bunyi alarm ketika mata masih betah tidur akibat begadang sampai jam 4 pagi, kamar dipenuhi dengan beragam jenis buku yang sudah berhari-hari berserak tanpa pernah benar-benar dibaca, masuk ke kamar mandi yang dipenuhi dengan piring-piring kotor bekas makan tadi malam, dan harus segera keramas karena ini sudah hari ke-empat rambutku tak kena shampo, dan aku harus masuk kuliah kurang dari setengah jam dari sekarang. And i looked at myself and ask, “What the hell i'm doing here?”

Aku sudah hidup sebegini lama dan tahu apa yang sedang terjadi saat ini, aku berdiri di jalan yang mengarah langsung kepada kematian. AKU TERJEBAK DI DALAM RUTINITAS! I'm so much aware about this situation. Rutinitas membuat lemak di badan semakin banyak, jerawat bertambah terus, sembelit setiap pagi, dan kerut di kulit bertambah berkali-kali lipat. Shit, i need a break. Dan aku tidak berada di sini, go to college to proof something. Aku mau keluar dari rutinitas di Medan, itu sebabnya aku pergi ke Yogyakarta. Kuliah hanya alasan, aku ingin melakukan sesuatu yang berbeda di sini, santai, do nothing, melenje. Oh ya, tentu saja aku ingat bahwa saat ini hidupku tergantung secara ekonomi sepenuhnya pada, meminjam istilah seorang kawan yang saat ini sedang berjuang untuk mendapat beasiswa, EMAK FOUNDATION.

Nilai yang bagus adalah laporan kepada pendana utama, emakku. But, skip it away! Emakku sudah makan asam garam kehidupan, ia ditinggal mati bapakku dan segudang masalah, menghadapi kebandalan masa remaja abangku plus kisah cinta abangku yang selalu problematis, dll. Satu atau dua nilai gagal tak akan membuat emakku putus asa dan membuat asmanya kumat lagi. Hopefully!

Setelah mencelupkan piring kotor ke dalam air ala kadarnya, mengkeramas rambut dan mandi dalam dua menit, akupun masuk kamar bertelanjang badan. Dan akupun bertekad untuk melakukan sesuatu yang beda hari ini. Nonton film romantis, makan mi ayam di mal, guling-guling di Malioboro. Yeah baby, i can do it!

But wait, ada amplop kuning berisi buku tagihan listrik bulan ini. Aku petugas penagih uang lisktrik bulan ini. Aku harus mendem di kos dan menunggu orang-orang mengetok pintu dan bilang, “Mbak, mau bayar listrik....” Shit again, i should stay home with the routinely. SOMEBODY, HELP ME OUT HERE!!!

Selasa, 01 November 2011

FILOSOFI YANG TAK DICERITAKAN

Sampai saat ini aku masih saja takjub setiap kali memasuki salah satu kelas yang kuikuti. Dari namanya, mungkin banyak orang yang sepele dengan kelas ini, tanpa mereka tahu bahwa di kelas inilah aku kembali ke masa lampau, menggali memori yang sudah lewat, menengoknya kembali dengan cara yang berbeda, dan akhirnya memperkaya kehidupan itu sendiri.

Suatu hari di kelas tersebut, kami membahas tentang salah satu tokoh dalam sebuah cerita di Kitab Adiparwa. Dosen pengasuh membuka kelas dengan menampilkan gambar burung garuda. Kurasa, siapapun yang pernah duduk di bangku SD, pastilah tahu tentang burung garuda, lambang negara Indonesia.  Apa yang semua orang ingat tentang burung yang satu ini? Sepertinya tak banyak, dan biasanya pastilah tentang bulu, selain sehelai kain yang dicengkram oleh sang garuda yang berbunyi "Bhineka Tunggal Ika", catat ya Bhineka Tunggal Ika, bukan NKRI harga mati lho.

Jadi, kembali ke masalah bulu, kalau enggak salah ada hitung-hitungan bulu sang garuda yang dilambangkan adalah tanggal, bulan, dan tahun kemerdekaan NKRI. Bulu kaki sekian, bulu dada sekian, bulu sayap sekian. Kalau ada yang iseng, pasti nanya, bulu ketek dan bulu kakinya berapa jumlahnya ya? Entahlah, yang jelas tulisan ini bukan untuk menjelaskan jumlah bulu sang garuda.

Ada yang, entah lupa atau sengaja, tak diceritakan kepada kita, para generasi muda tentang asal-muasal dipilihnya garuda sebagai lambang negara. Ada landasan filosofis yang kupikir akan sangat mengena di hati masyarakat dan pastinya lebih  bermutu ceritanya daripada sekadar hitung-hitungan bulu-bulu tadi. Di kelas inilah kutemukan sesuatu yang tak kudapat di luar sana, sejak SD sampai kuliah S1, di mata kuliah Pancasila.

Siapakah sang garuda? Dia adalah anak dari Sang Winata dan Bagawan Kacyapa. Ia adalah anak yang menetas dari sebutir telur hasil tapa brata Rsi Walakilya. Ia adalah anak yang ditakdirkan untuk menebus ibunya dari perbudakan. Ia adalah anak yang berjuang, melawan para dewa bahkan Wisnu sekalipun untuk mendapat amrta guna menebus ibunya. Ia adalah pembebas. Kalau kita membaca bagian tentang sang garuda dan perjuangannya membebaskan ibunya, Sang Winata, dari perbudakan, maka patutlah kita acungkan jempol kepada para pendiri negara yang telah memilih sosok sang garuda sebagai lambang negara.

Saya teringat beberapa tahun silam saat di sebuah blog, yang katanya dibuat oleh orang Malaysia untuk menjatuhkan martabat Indonesia, yang memuat tentang lambang negara Indonesia, sang garuda, yang mencontek Polandia. Dari banyaknya komentar dan perdebatan, tak satupun yang saya baca menyinggung tentang sejarah garuda itu sendiri, keberadaannya sebagai anak yang dijanjikan, keberadaannya sebagai pembebas.

Aku beruntung masuk ke dalam sebuah kelas yang membuat mata dan pikiran terbuka kepada hal-hal yang tak kupahami sebelum ini. Dan aku percaya, banyak orang di luar sana, rindu untuk mengetahui apa yang saat ini kupelajari. Sesuatu, landasan filosofis, yang tak diceritakan kepada kita.